Jumlah Paparan Halaman

Sabtu, 22 Oktober 2011

Formula untuk menghafal halaman Al-Quran...


Di sini ana ingin kongsikan dengan anda formula untuk menghafal halaman Al-Quran...

Contoh 1
Jika anda ingin mengetahui Juzu’ 5 di halaman ke berapa:
5-1 = 4, 4 perlu didarab dengan 2 jadi 4 tak 2 = 8
Letakkan no 2 selepas jawapan.
Jadi, juzu’ 5 adalah pada halaman 82

Sekarang lihat pada Quran dan anda akan lihat Juzu’ 5 bermula pada halaman 82. Menarikkan?

Contoh 2
Jika anda ingin mengetahui Juzu’ 10 di halaman ke berapa:
10-1 = 9, 9 perlu didarab dengan 2 jadi 9 tak 2 = 18
Letakkan no 2 selepas jawapan.
Jadi, juzu’ 10 adalah pada halaman 182

Contoh 3
Jika anda ingin mengetahui Juzu’ 23 di halaman ke berapa:
23-1 = 22, 22 perlu didarab dengan 2 jadi 22 tak 2 = 44
Letakkan no 2 selepas jawapan.
Jadi, juzu’ 23 adalah pada halaman 442

Subhanallah, memang menakjubkan. Ajarkan pada anak-anak kecil agar mereka sentiasa membaca Al-Quran, bukan masuk Bintang Kecil, bukan bercita-cita masuk Akademi Fantasia atau Mentor!!

~~~Selamat Mencuba~~~

Jumaat, 21 Oktober 2011

LEGGING

Sejak 2-3 tahun kblakagan ni, Anonymous Marshal amat kcewa dgn SEGELINTIR kaum Hawa yg langsung xda prasaan MALU dlm diri mereka,KENAPA? bukan ke prasaan malu wanita itu 1 naluri yg ada dlm diri stiap wanita? 10 kali gnda dosa marshal sbaik marshal kluar dari rumah prgi kolej. adakah wanita diluar sane tau yg mereka sedang diprhatikan mgenai ape yg dipakainya? Amat mgecewakan!!!!
Ape yg megecewakan adalah ramai wanita muslim tnpa segan silu pakai LEGGING di khalayak ramai di tgah bndar yg sesak dgn mcm2 jnis lelaki ajnabi! ADAKAH ANDA PRASAN ANDA SEDANG BRBOGEL?!! xwjudkah prasaan malu itu dlm ati? pakai legging same seperti anda bogel sje lbih bek anda xpayah pakai sluar...agaknya sapelah manusia yg cipta sluar lucah macm ni? adakah anda tau, di ngara barat seperti amerika,rusia,jerman,brazil dan sweden tlah mgangap sluar legging hya dipakai oleh PELACUR,PLAYAN BAR DAN PLAKON VIDEO LUCAH SAHAJA..!! slain dari itu org awam yg xbrkenaan dilarag memakainya tnpa tujuan...tapi dingra ni, Marshal lihat bgitu ramai wanita muslim yg bragan nak jadi sbhagian kategori sprti yg sye sebutkan di atas tadi!! tidak rasa malukah anda?? anda xpnah blajar agama ke? Jika marshal tegur pandai plak nak prtahankan diri padahal dirinya dah bgitu murah DIROGOL BRPULUH-PULUH LELAKI AJNABI HYA DEGN PANDANGAN SJE. bgitu SAKIT mata Marshal memandag keadaan wanita yg brpakaian sbegitu tidak sopan dikhalay ramai. Siap boleh ukur stiap inci disebalik sluar legging trsebut AMAT MEMALUKAN KAUM WANITA YG LAIN YG MGORBANKAN TUBUH MEREKA BRPANAS MNUTUP AURAT SMATA MATA TIDAK IGN DILIHAT LELAKI LAIN MELAINKAN SUAMINYA SHAJA. Anda xksian pada wanita lain yg TAGGUNG MALU KRANA PAKAIAN ANDA INI?
Marshal xkisah kalu wanita memakai legging bila dlm rumah atau brsama suami sbb memag xsalah pakai dihadapan suami smata mata nak goda suami,TAPI ape tjuan anda cuba goda lelaki ajnabi di tgah2 bandar dgn brpakaian bgini? samada nak pakai dlm umah,atau depan suami pon anda pya hal lah,sape nak ambik tau,tapi anda bagi lelaki lain dosa scra FREE atas pakaian LUCAH ANDA DI TMPAT AWAM!!

KEPADA SEGELINTIR SUAMI YG MEMBIARKAN ISTRINYA MEMAKAI LEGGING DI TEMPAT AWAM..., anda adalah sorg suami yg DAYUS MEMBIARKAN ISTRI ANDA DIROGOL LELAKI LAIN DIKHALAYAK RAMAI TNPA ANDA SEDARI...

ADAKAH ANDA AKAN BERUBAH? Anonymous Marshal amat marah dan kcewa!!!!
copy dari FB NUR MUJAHIDAH

10 surah

10 Surah dapat Menghalang daripada 10 ujian Besar Allah

1- Surah Al-Fatihah dapat memadam kemurkaan Allah SWT.
2- Surah Yasin dapat menghilangkan rasa dahaga atau kehausan pada hari Kiamat.
3- Surah Dukhan dapat membantu kita ketika menghadapi ujian Allah SWT pada hari kiamat.
4- Surah Al-Waqiah dapat melindungi kita daripada ditimpa kesusahan atau fakir.
5- Surah Al-Mulk dapat meringankan azab di dalam kubur.
6- Surah Al-Kauthar dapat merelaikan segala perbalahan.
7- Surah Al-Kafirun dapat menghalang kita daripada menjadi kafir ketika menghadapi kematian.
8- Surah Al-Ikhlas dapat melindungi kita daripada menjadi golongan munafiq.
9- Surah Al-Falq dapat menghapuskan perasaan hasad dengki.
10- Surah An-Nas dapat melindungi kita daripada ditimpa penyakit was-was.

Khamis, 20 Oktober 2011

DOA DAN ZIKIR

Doa dan Zikir

Doa Orang Yang Mengalami Kesulitan

اَللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

Ya Allah! Tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mu-dah. Sedang yang susah bisa Engkau jadikan mudah, apabila Engkau meng-hendakinya.”
— HR. Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya no. 2427 (Mawaarid), Ibnus Sunni no. 351. Al-Hafizh berkata: Hadits di atas sahih, dan dinyatakan shahih pula oleh Abdul Qadir Al-Arnauth dalam Takhrij Al-Adzkar oleh Imam An-Nawawi, h. 106.

TAFSIR AYAT KURSI

Tafsir Ayat Kursi


Keutamaan Ayat Kursi
Semua surat dalam al-Qur’an adalah surat yang agung dan mulia. Demikian juga seluruh ayat yang dikandungnya. Namun, Allah ta’ala dengan kehendak dan kebijaksanaanNya menjadikan sebagian surat dan ayat lebih agung dari sebagian yang lain. Surat yang paling agung adalah surat al-Fatihah, sedangkan ayat yang paling agung adalah ayat kursi, yaitu di surat Al-Baqarah, ayat 255. Yang akan kita pelajari bersama dalam kesempatan ini adalah ayat kursi.

Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
“Wahai Abul Mundzir (gelar kunyah Ubay), tahukah engkau ayat mana di kitab Allah yang paling agung?”
Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”
Beliau berkata, “Wahai Abul Mundzir, Tahukah engkau ayat mana di kitab Allah yang paling agung?”
Aku pun menjawab,
اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
Maka beliau memukul dadaku dan berkata, “Demi Allah, selamat atas ilmu (yang diberikan Allah kepadamu) wahai Abul Mundzir.” (HR. Muslim no. 810)
Dalam kisah Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dengan setan yang mencuri harta zakat, disebutkan bahwa setan tersebut berkata,
“Biarkan aku mengajarimu beberapa kalimat yang Allah memberimu manfaat dengannya. Jika engkau berangkat tidur, bacalah ayat kursi. Dengan demikian, akan selalu ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.”
Ketika Abu Hurairah menceritakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, beliau berkata,
“Sungguh ia telah jujur, padahal ia banyak berdusta.” (HR. al-Bukhari no. 2187)
Dalam kisah lain yang mirip dengan kisah di atas dan diriwayatkan Ubay bin Ka’b radhiallahu ‘anhu, disebutkan bahwa si jin mengatakan:
مَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِي أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُصْبِحَ ، وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُمْسِيَ
“Barangsiapa membacanya ketika sore, ia akan dilindungi dari kami sampai pagi. Barangsiapa membacanya ketika pagi, ia akan dilindungi sampai sore.” (HR. ath-Thabrani no. 541, dan al-Albani mengatakan bahwa sanadnya bagus)
Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ، إِلا الْمَوْتُ
“Barangsiapa membaca ayat kursi setelah setiap shalat wajib, tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga selain kematian.” (HR. ath-Thabrani no. 7532, dihukumi shahih oleh al-Albani)
Disunnahkan membaca ayat ini setiap (1) selesai shalat wajib, (2) pada dzikir pagi dan sore, (3) juga sebelum tidur.
Tafsir Ayat Kursi
اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia Yang hidup kekal serta terus menerus mengurus (makhluk).”
Allah adalah nama yang paling agung milik Allah ta’ala. Allah mengawali ayat ini dengan menegaskan kalimat tauhid yang merupakan intisari ajaran Islam dan seluruh syariat sebelumnya. Maknanya, tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah selain Allah. Konsekuensinya tidak boleh memberikan ibadah apapun kepada selain Allah.
Al-Hayyu dan al-Qayyum adalah dua di antara al-Asma’ al-Husna yang Allah miliki. Al-Hayyu artinya Yang hidup dengan sendirinya dan selamanya. Al-Qayyum berarti bahwa semua membutuhkan-Nya dan semua tidak bisa berdiri tanpa Dia. Oleh karena itu, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di mengatakan bahwa kedua nama ini menunjukkan seluruh al-Asma’ al-Husna yang lain.
Sebagian ulama berpendapat bahwa al-Hayyul Qayyum adalah nama yang paling agung. Pendapat ini dan yang sebelumnya adalah yang terkuat dalam masalah apakah nama Allah yang paling agung, dan semua nama ini ada di ayat kursi.
لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ
“Dia Tidak mengantuk dan tidak tidur.”
Maha Suci Allah dari segala kekurangan. Dia selalu menyaksikan dan mengawasi segala sesuatu. Tidak ada yang tersembunyi darinya, dan Dia tidak lalai terhadap hamba-hamba-Nya.
Allah mendahulukan penyebutan kantuk, karena biasanya kantuk terjadi sebelum tidur.
Barangkali ada yang mengatakan, “Menafikan kantuk saja sudah cukup sehingga tidak perlu menyebut tidak tidur; karena jika mengantuk saja tidak, apalagi tidur.”
Akan tetapi, Allah menyebut keduanya, karena bisa jadi (1) orang tidur tanpa mengantuk terlebih dahulu, dan (2) orang bisa menahan kantuk, tetapi tidak bisa menahan tidur. Jadi, menafikan kantuk tidak berarti otomatis menafikan tidur.
لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ
“Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.”
Semesta alam ini adalah hamba dan kepunyaan Allah, serta di bawah kekuasaan-Nya. Tidak ada yang bisa menjalankan suatu kehendak kecuali dengan kehendak Allah.
مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ
“Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.”
Memberi syafaat maksudnya menjadi perantara bagi orang lain dalam mendatangkan manfaat atau mencegah bahaya. Inti syafaat di sisi Allah adalah doa. Orang yang mengharapkan syafaat Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam berarti mengharapkan agar Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam mendoakannya di sisi Allah. Ada syafaat yang khusus untuk Nabi Muhammad, seperti syafaat untuk dimulainya hisab di akhirat, dan syafaat bagi penghuni surga agar pintu surga dibukakan untuk mereka. Ada yang tidak khusus untuk Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, seperti syafaat bagi orang yang berhak masuk neraka agar tidak dimasukkan ke dalamnya, dan syafaat agar terangkat ke derajat yang lebih tinggi di surga.
Jadi, seorang muslim bisa memberikan syafaat untuk orang tua, anak, saudara atau sahabatnya di akhirat. Akan tetapi, syafaat hanya diberikan kepada orang yang beriman dan meninggal dalam keadaan iman. Disyaratkan dua hal untuk mendapatkannya, yaitu:
  1. Izin Allah untuk orang yang memberi syafaat.
  2. Ridha Allah untuk orang yang diberi syafaat.
Oleh karena itu, seseorang tidak boleh meminta syafaat kecuali kepada Allah. Selain berdoa, hendaknya kita mewujudkan syarat mendapat syafaat; dengan meraih ridha Allah. Tentunya dengan menaatiNya menjalankan perintahNya semampu kita, dan meninggalkan semua laranganNya.
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ
“Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka.”
Ini adalah dalil bahwa ilmu Allah meliputi seluruh makhluk, baik yang ada pada masa lampau, sekarang maupun yang akan datang. Allah mengetahui apa yang telah, sedang, dan yang akan terjadi, bahkan hal yang ditakdirkan tidak ada, bagaimana wujudnya seandainya ada. Ilmu Allah sangat sempurna.
وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ
“Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah kecuali dengan apa yang dikehendaki-Nya.”
Tidak ada yang mengetahui ilmu Allah, kecuali yang Allah ajarkan. Demikian pula ilmu tentang dzat dan sifat-sifat Allah. Kita tidak punya jalan untuk menetapkan suatu nama atau sifat, kecuali yang Dia kehendaki untuk ditetapkan dalam al-Quran dan al-Hadits.
وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ
“Kursi Allah meliputi langit dan bumi.”
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu menafsirkan kursi dengan berkata:
الكُرْسيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيْهِ
“Kursi adalah tempat kedua telapak kaki Allah.” (HR. al-Hakim no. 3116, di hukumi shahih oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi)
Ahlussunnah menetapkan sifat-sifat seperti ini sebagaimana ditetapkan Allah dan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, sesuai dengan kegungan dan kemuliaan Allah tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluk.
Ayat ini menunjukkan besarnya kursi Allah dan besarnya Allah. Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda:
مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْع مَعَ الكُرْسِيِّ إِلاَّ كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْض فَلاَةٍ
“Tidaklah langit yang tujuh dibanding kursi kecuali laksana lingkaran anting yang diletakkan di tanah lapang.” (HR. Ibnu Hibban no.361, dihukumi shahih oleh Ibnu Hajar dan al-Albani)
وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا
“Dan Allah tidak terberati  pemeliharaan keduanya.”
Seorang ibu, tentu merasakan betapa lelahnya mengurus rumah sendirian. Demikian juga seorang kepala desa, camat, bupati, gubernur atau presiden dalam mengurus wilayah yang mereka pimpin. Namun, tidak demikian dengan Allah yang Maha Kuat. Pemeliharaan langit dan bumi beserta isinya sangat ringan bagi-Nya. Segala sesuatu menjadi kerdil dan sederhana di depan Allah.
وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
Allah memiliki kedudukan yang tinggi, dan dzat-Nya berada di ketinggian, yaitu di atas langit (di atas singgasana). Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bertanya kepada seorang budak perempuan: “Di mana Allah?”
Ia menjawab, “Di langit.”
Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bertanya, “Siapa saya?”
Ia menjawab, “Engkau adalah Rasulullah.”
Maka, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam berkata kepada majikannya (majikan budak perempuan tersebut -ed), “Bebaskanlah ia, karena sungguh dia beriman!” (HR. Muslim no. 537)
Jelaslah bahwa keyakinan sebagian orang bahwa Allah ada dimana-mana bertentangan dengan al-Qur’an dan al-Hadits.
Demikian pula Allah memiliki kedudukan yang agung dan dzatnya juga agung sebagaimana ditunjukkan oleh keagungan kursiNya dalam ayat ini.
Kesimpulan:
  1. Semua ayat al-Qur’an agung. Adapun ayat yang paling agung adalah ayat kursi.
  2. Disunnahkan untuk membaca ayat ini setiap selesai shalat wajib, pada dzikir pagi dan sore, dan sebelum tidur.
  3. Penegasan kalimat tauhid.
  4. Arti al-Hayyu dan al-Qayyum yang menunjukkan seluruh nama Allah yang lain.
  5. Semua bentuk  kekurangan harus dinafikan dari Allah.
  6. Arti syafaat dan syarat memperolehnya.
  7. Ilmu Allah sangat sempurna.
  8. Kita hanya menetapkan untuk Allah nama dan sifat  yang ditetapkan oleh Allah dan RasulNya sesuai dengan keagungan dan kemuliaanNya, tanpa menyerupakannya dengan nama dan sifat makhluk.
  9. Arti dan keagungan kursi Allah.
  10. Ketinggian dan keagungan Allah dalam dzat dan kedudukan.
  11. Kesalahan orang yang mengatakan Allah ada di mana-mana.
  12. Penetapan banyak nama dan sifat Allah yang menunjukkan kemuliaan dan kesempurnaan-Nya.
Wallahu a’lam.
Referensi:
  1. Al-Quran dan  Terjemahnya
  2. Tafsir Ibnu Katsir
  3. Fathul Qadir, asy-Syaukani
  4. Taysirul Karimir Rahman, Abdurrahman as-Sa’di
  5. Shahih al-Bukhari
  6. Shahih Muslim
  7. Al-Mu’jam al-Kabir, ath-Thabrani
  8. al-Mustadrak, al-Hakim.
  9. Shahih Ibnu Hibban
  10. Shahih Targhib wa Tarhib, al-Albani
  11. Silsilah Ahadits Shahihah, al-Albani
  12. Fathul Majid, Abdurrahman bin Hasan
  13. Fiqhul Asma’il Husna, Abdurrazzaq al-Badr
  14. Al-Qamus al-Muhith, al-Fairuzabadi
Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi berkata: “…tiada kehidupan untuk hati, tidak ada kesenangan dan ketenangan baginya, kecuali dengan mengenal Rabbnya, Sesembahan dan Penciptanya, dengan Asma’, Sifat dan Af’al (perbuatan)-Nya, dan seiring dengan itu mencintai-Nya lebih dari yang lain, dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya tanpa yang lain…” (Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyyah)
***
Penulis: Ustadz Anas Burhanuddin, Lc.

Rabu, 14 September 2011

Arjuna Bermain Biola: PERKARA-PERKARA YANG MEMBUAT ANDA HILANG INGATAN D...

Arjuna Bermain Biola: PERKARA-PERKARA YANG MEMBUAT ANDA HILANG INGATAN D...: Soalan : Arjuna! Saya Dah Berumur 23 Tahun.. Saya Menghidap Penyakit Pelupa Yang Sangat Serius! Kadang-kadang, Nama Bestfriend Saya Pun Say...

Arjuna Bermain Biola: Tudung Wanita Islam Zaman Moden!

Arjuna Bermain Biola: Tudung Wanita Islam Zaman Moden!: Sejarah pemakaian tudung ini sebenarnya bermula berkurun lamanya. Pada zaman Judeo-Kristian membuktikan pemakaian tudung yang biasanya dip...

Arjuna Bermain Biola: KFC Haram Dimakan!

Arjuna Bermain Biola: KFC Haram Dimakan!: Soalan : Arjuna! Benarkah KFC haram dimakan? Jawapan : Persoalannya sekarang bukan ini sahaja (fizikal) yang menentukan halal atau haram...

Rabu, 27 Julai 2011

@w@k L@gi!? - b@b 10


BAB 10
                PADA suatu pagi, Iman Nur ‘Ain dipanggil oleh abahnya, Datuk Indra Ihsan. Kenapa? Entahlah? Cuciter… cuciter… (pinjam ayat orang sikit. Jangan marah. Peace). Kini gadis itu telah pun berada di dalam bilik abahnya itu. Waa… suspen je ni. Hehehe…
                ‘Apa pulak kesalahan aku kali ni? Pagi-pagi lagi abah dah cari kau. Tadi masa sarapan abah tak cakap apa-apa pun. Ni yang buat aku tak sedap hati ni,’ bisik gadis itu. Dia gelisah di tempat duduknya itu. Aircond yang terpasang tidak mampu menyejukkan badannnya yang tiba-tiba rasa berpeluh. Ye ke? Perasaan je kot.
                Iman Nur ‘Ain yang duduk di atas kerusi di hadapan abahnya itu tunduk sambil memandang fail yang sedang diteliti oleh  abahnya itu. Nampak serius wajah itu. Takut pulak nak bukak mulut bertanya apa masalahnya? Beberapa minit sudah berlalu. Namun tiada sebarang perbincangan dibuat antara dua beranak ini.
                Tiba-tiba selepas dua puluh minit berlalu…
                “Iman Nur ‘Ain binti Indra Ihsan!” panggil Datuk Indra Ihsan tiba-tiba setelah lama berdiam diri.
                Tersentak gadis itu. Habis semua lamunannya sebentar tadi. Lantas dia mengangkat mukanya yang sedari tadi menunduk memandang permaidani. Eleh… macam lawa sangat permaidani tu nak ditenungnya.
                ‘Ah! Sudah. Abah panggil nama penuh aku siap dengan binti lagi tu. Aduh… ni mesti silap lagi. Apalah masalah aku ni? Asyik buat silap je akhir-akhir ni,’ bisik hati Iman Nur ‘Ain. Tak senang duduk dia apabila dia merasakan dia ada buat salah.
                Cepat-cepat dia menyahut panggilan abahnya itu.
                “Ya…ya Datuk,” jawab gadis itu tergagap-gagap.
                Itulah panggilan yang selalu digunakan kepada abahnya itu apabila berada di pejabat. Semua protokol dan etika kerja mesti dipatuhi. Tak kiralah dia anak bos ke apa ke. Yang penting protokol tetap protokol. Mesti kena ikut. Betul tak? Datuk Indra Ihsan tidak pernah membezakan status anaknya itu dengan pekerja-pekerja yang lain. Baginya kerja tetap kerja. Jika anaknya itu membuat kesilapan, pasti ditegurnya. Bukannya apa untuk kebaikan bersama. Yelah tu. Betullah tu. Apa yang tak betulnya. Aiseh… ada jugak yang dengki ni. Huhuhu…
                Datuk Indra Ihsan memandang wajah anaknya itu yang nampak sedikit gelisah. Nampak tak senang duduk je.
                “Iman Nur ‘Ain, kenapa kontrak ini belum dibetulkan? Saya dah semak. Semuanya belum diperbaiki. Apa yang awak buat selama ni?” soal Datuk Indra Ihsan tidak berpuas hati dengan prestasi kerja anaknya itu. Semakin hari semakin merosot. Apa dah jadi? Kerap sangat buat silap.
                Iman Nur ‘Ain hanya diam. Lantas dia menunduk semula. Apahal? Takut sangat ke dengan abahnya itu?
                “Awak ada apa-apa masalah ke Iman Nur ‘Ain?” soal Datuk Indra Ihsan lagi apabila anaknya itu tidak menjawab pertanyaannya itu.
                “Err… tak ada apa-apa masalah Datuk,” jawabnya perlahan.
                “Habis tu, kenapa masih buat kesilapan yang sama?” soal Datuk Indra Ihsan lagi dengan nada suara yang sedikit tinggi. Marah nampaknya bos kita ni. Sabar… sabar…
                Tersentak Iman Nur ‘Ain. Lantas dia mengangkat mukanya menghadap abahnya itu.
                “Sudah saya katakan dari awal lagi, jangan campur adukkan soal kerja dengan masalah peribadi. Selesaikan dulu masalah awak. Selepas itu, baru tumpukan pada kerja awak. Kalau tak inilah jadinya. Kerja entah ke mana. Masalah pun bertambah. Betul tak apa yang saya katakan ini Iman Nur ‘Ain?” ujar Datuk Indra Ihsan tegas. Tapi, kali ini nada suaranya tidak setinggi tadi. Dikawalnya apabila melihat wajah anaknya itu terkejut dengan suaranya tadi.
                “Err…”
                ‘Alamak! Aku bagi yang mana tu? Takkan aku silap bagi yang lama? Ya ALLAH kenapalah aku cuai sangat? Bukan ke aku dah siap asingkan yang lama dengan yang baru? Habis kenapa aku boleh silap bagi pulak ni? Siapa pulak yang memandai alih ni? Eee… ni yang buat aku geram ni…’ rungut Iman Nur ‘Ain sekadar dalam hati.
                Datuk Indra Ihsan semakin pelik melihat reaksi anaknya itu. Berkerut-kerut mukanya seperti menahan sakit.
                ‘Kenapa pulak dengan along ni? Sakit kepala lagi ke?’ bisik hati tuanya.
                Datuk Indra Ihsan ingin bertanya tapi belum sempat dia membuka mulut, tiba-tiba anaknya itu terlebih dahulu bersuara.
                “Err… Maaf Datuk. Sebenarnya saya dah siapkan semua yang Datuk nak tu. Cuma saya tersilap bagi yang lama. Maaf di atas kecuaian ini,” ujar Iman Nur ‘Ain mengaku akan kecuaiannya itu. Silap dia juga kerana tidak menyemak terlebih dahulu sebelum menyerahkannya kepada orang atasannya itu. Sepatutnya perkara itulah yang perlu dititikberatkan. Apa-apa pun lain kali jangan ulangi perkara itu ye Ain…
                Datuk Indra Ihsan tersenyum sambil mengelengkan kepalanya. Iman Nur ‘Ain tidak seperyi anak-anaknya yang lain. Walaupun Iman Nur ‘Ain mempunyai kembar, namun dual lagi kembarnya itu lain benar perangainya. Betullah kata orang, kembar tak semestinya sama perangai walaupun rupa dan wajah mereka sama.
                Iman Nur ‘Ain pelik melihat abahnya itu. Tersenyum dengan kesalahan yang dilakukannya atau ada sebab lain.
                ‘Kenapa pulak abah ni? Tetiba je senyum memanjang. Apa yang abah fikir agaknya sekarang ni ye? Isyk… tak mahu fikirlah. Buat sakit kepala je. Buat tak tahu ajelah,’ bisik hati Iman Nur ‘Ain sambil memandang abahnya itu.
                Datuk Indra Ihsan turut memandang anaknya itu.
                “Along…” panggilnya.
                “Err… ye…” jawab gadis itu sedikit gagap.
                “Along ada masalah ke?” soal Datuk Indra Ihsan straight to the point. Takyah kona-kona.
                Tersentak Iman Nur ‘Ain.
                ‘Abah boleh kesan ke aku ada masalah?’ bisik hati kecilnya.
                “Err… Eh… takdelah. Err… along takde apa-apa masalah pun setakat ni. Abah… Eh! Datuk jangan risau. Semuanya dalam keadaan baik,” ujar Iman Nur ‘Ain cuba berselindung dari perkara sebenar sampai tergagap lagaknya.
                “Betul? Betul takde apa-apa?” soal Datuk Indra Ihsan tidak puas hati.
                “Ye. Takde apa-apa,” jawab Iman Nur ‘Ain dengan confidentnya.
                “Betul ke? Tapi, abah tengok lain macam je sejak akhir-akhir ni. Abah tengok along lain sikit sejak kebelakangan ni. Dah pandai melawa. Dulu tu abah tengok along cuma sapu bedak je. Tapi, sekarang ni abah dapat tengok perubahan anak abah ni,” ujar Datuk Indra Ihsan sambil menarik hidung mancung milik anaknya itu. Mancung ke? Hehehe…
                Iman Nur ‘Ain menjerit kecil sambil mengosok hidungnya yang menjadi mangsa tarikan tu. Dikerling abahnya itu.
                ‘Abah tahu ke?’ bisik hatinya.
                “Ada apa-apa yang abah tertinggal?” soal Datuk Indra Ihsan ingin tahu. Niatnya hanya ingin mengusik anak gadisnya itu. Dia tahu sikap pemalu anaknya itu.
                Datuk Indra Ihsan tertanya-tanya perkara apa yang disembunyikan oleh anaknya itu. Dia seakan dapat meneka Iman Nur ‘Ain memyembunyikan sesuatu daripadanya.
                Iman Nur ‘Ain pulak tidak keruan. Dia tidak tahu bagaimana hendak memberitahu abahnya itu tentang perasaannya itu. Al maklumlah baru first timelah katakan. Ye ke? Hehehe…
                “Along…” panggil Datuk Indra Ihsan pabila melihat anaknya itu diam. Tapi, pada masa yang sama nampak gelisah.
                Iman Nur ‘Ain memandang Datuk  Indra Ihsan.
                “Abah… along… along… tak tahu macam mana nak cerita kata bah. Benda ni datang tetiba je. Along malu nak cakap kat abah,” ujar gadis itu lantas menundukkan mukanya dari abahnya itu. Dia malu sebenarnya. Kui…kui…kui…
                Datuk Indra Ihsan mengelengkan kepalanya.
                ‘Masalah cinta agaknya ni,’ bisik hati tuanya.
                “Along… abah tak paksa kalau along tak nak cerita. Itu soal peribadi along. Cuma satu je abah nak ingatkan, jangan ikutkan sangat kata hati. Kadang-kadang ia membawa keburukan kepada kita. Hati kita perlu dijaga supaya ia tidak mudah terpedaya dengan anasir luar. Kita juga dikurniakan akal yang boleh membezakan yang mana baik yang mana buruk. Ingat tu,” ujar Datuk Indra Ihsan berpesan kepada anak gadisnya itu.
                Iman Nur ‘Ain mengangguk tanda dia akan ingat semua nasihat serta peringatan daripada abahnya itu.
                “Abah… insyaallah along akan ingat semua nasihat abah,” ujar gadis itu.
                Datuk Indra Ihsan tersenyum mendengar kata-kata anaknya itu.
                Sebenarnya sedar tak sedar sudah hampir dua bukan Iman Nur ‘Ain bekerjasama dengan Syed Iskandar. Dalam tempoh itu mereka mungkin tidak menyedari ada timbul perasaan asing di antara satu sama lain. Mulut tidak terucap, tapi kalau dilihat dari bahasa tubuh dan pandangan mata mungkin kita dapat meneka mereka berkongsi perasaan yang sama. Eh…eh… macam nujum pulak. Memandai je nak teka-teka. Eleh… suka hatilah…
                Datuk Indra Ihsan memerhati anaknya itu. Tetiba je termenung.
                “Along,” panggilnya.
                Tiada sahutan. Nampak macam tuan punya badan takde kat sini.
                 “Along…” dipanggil sekali lagi.
                Masih juga tiada sahutan. Datuk Indra Ihsan mengelengkan kepalanya.
                ‘Kenapa pulak dengan along ni?’ bisik hatinya.
                “Iman Nur ‘Ain!!” panggil Datuk Indra Ihsan lagi dengan nada yang sedikit tinggi.
                Tersentak gadis itu. Tulah berangan lagi. Kan dah terkantoi. Habis semua lamunannya yang entah apa-apa. Terkebel-kebel matanya memandang abahnya itu.
                “Err… ya… abah…” jawabnya tergagap-gagap. Dipandang wajah abahnya itu dengan tanda tanya.
                “Err… kenapa abah?” soalnya. Hai… boleh pulak soal balik.
                “Hai… along ni. Baru tadi abah beritahu, jaga hati. Ni belum apa-apa lagi along dah terlalai. Macam mana ni along?” keluh Datuk Indra Ihsan. Dia sedikit kecewa dengan anaknya itu.
                “Along minta maaf abah. Along terlalu banyak sangat berfikir. Tu yang melayang habis tadi tu. Maaf ye abah. Lain kali dah tak buat lagi. I’m promise,” ujar gadis itu sambil mengangkat tangannya macam orang nak berikrar lagaknya. Hehehe…
                 “Jangan berjanji kalau tak mampu nak tepati. Abah tak nak anak abah ni merana di kemudian hari. Kalau ada apa-apa yang menganggu fikiran, along boleh cakap terus kat abah. Abah tak nak jadi orang yang paling last tahu pasal anak abah sendiri. Bolehkan along? Jangan simpan dalam hati sorang-sorang. Abah risau tengok anak abah ni,” ujar Datuk Indra Ihsan kepada Iman Nur ‘Ain itu sambil menggosok kepala anak gadisnya itu yang dilindungi oleh kain tudung.
                Iman Nur ‘Ain menunduk malu mendengar kata-kata abahnya itu.
Nampak macam tahu je rahsia budak tu.
“Okey. Sekarang ni, abah nak along siapkan kerja terbaru yang baru kita dapat dua hari lepas. Abah nak tengok hasilnya lebih baik daripada sebelum ini ye. Bolehkan along?” ujar Datuk Indra Ihsan.
“Baik datuk!” ujar Iman Nur ‘Ain lantas mengangguk. Yah! Semangat tetiba. Dia berasa sedikit lega, apabila beban perasaan yang selama ini dipendam sorang-sorang terkeluar jugak akhirnya walaupun bukan kepada tuan empunya diri. Kui…kui…kui…
“Abah harap, along ingat pesan abah ni,” ujar Datuk Indra Ihsan tetiba buat muka serius. Takut tak? Hehehe…
Iman Nur ‘Ain mengangguk laju lantas meminta diri untuk keluar. Lalu dia menuju ke arah pintu. Pada ketika itu juga pintu diketuk dari luar. Terkejut gadis itu.
‘Fuh! Nasib baik aku tak pulas lagi. Nanti jadi macam hari tu,’ ujar Iman Nur ‘Ain dalam hati. Dia mengurut dadanya. Datuk Indra Ihsan yang pelik melihat kelakuan anaknya itu lantas mendekati gadis berkenaan.
“Kenapa along?” tanya Datuk Indra Ihsan lantas menepuk bahu anaknya itu.
“Hah!” tersentak gadis itu.
“Ya ALLAH! Kalau selalu macam ni boleh sakit jantung aku,” gumam gadis itu perlahan tapi masih mampu didengar oleh abahnya itu.
“Kenapa sampai nak sakit jantung pulak ni?” soal Datuk Indra Ihsan lagi sambil menuju ke arah pintu. Sebenarnya dari tadi dia sedang menunggu Syed Iskandar untuk berbincang sesuatu dengan pekerjanya itu.
Kedengaran ketukan di pintu entah berapa kali agaknya baru nak terdengar. Adui… apa da… Kesian orang kat luar tu asyik duk ketuk dari tadi.
Datuk Indra Ihsan lantas memulas tombol pintu lalu membukanya. Kelihatan orang yang ditunggu dah pun datang. Lalu dijemputnya masuk.
Iman Nur ‘Ain masih berdiri di tempatnya tadi. Tak bergerak. Dah jadi patung ke apa? Hehehe… gurau je…
“Jemput masuk Iskandar,” ujar Datuk Indra Ihsan menjemput lelaki itu masuk.
Iman Nur ‘Ain yang terkaku di depan pintu mula tersedar. Terkejut dia apabila melihat Syed Iskandar ada di dalam bilik abahnya itu.
‘Aik! Bila masa dia ada kat sini?’ bisik hatinya. Tu la berangan lagi…
Syed Iskandar turut terkejut apabila melihat dirinya. Terkedu dia apabila lelaki itu memandang tepat ke arahnya. Berdegup laju jantung. Macam-macam irama ada. Pantas dia meminta diri untuk beredar. Tak kuat rasanya nak menghadap lelaki itu untuk hari ini. Ceh! Boleh pulak buat camtu ye… Macam mana nak elak ye?
‘Hai… kalau tiap-tiap hari macam ni, kena hard attack jugak aku nanti. Uih… nauzubillah…
“Err… Cik Ain ada di sini rupanya,” ujar Syed Iskandar cuba menutup kegugupannya. Apahal pulak mamat ni gugup tetiba. Cuciter sikit. Yelah mana tak gugup. Orang yang dicari telah ketemu. Musing ketam cari padahal ada kat dalam bilik bos besar rupanya. (Musing means berpusing-pusing. Ni ayat ganu ye adik-adik) Kui…kui…kui…
“Err… kenapa?” soal gadis itu. Tak jadi dia nak melangkah keluar. Di pandang lelaki itu. Tapi sekejap je. Lepas tu tunduk. Bahaya nak pandang lama-lama. Huhuhu…
Datuk Indra Ihsan pulak yang berasa pelik melihat kedua-duanya.
‘Kenapa pulak budak berdua ni? Cakap tergagap-gagap. Ada yang tak kena ni,’ bisik hati tuanya.
“Takde apa-apa sangat. Cuma, saya nak serahkan kertas kerja yang kita bincang hari tu. Saya dah siapkan. Cik Ain nak sekarang?” ujar Syed Iskandar lantas memandang wajah Datuk Indra Ihsan yang ada di situ. Hailah… dia pun tak mampu nak pandang Cik Ain dia tu lama-lama. Huih! Mengaku Cik Ain tu dia punya. Hahaha… ada kemajuan. Cantek…
“Oo… ye ke? Takpe-takpe. Nanti kalau saya nak, saya akan minta sendiri kat awak ya. Saya minta diri dululah. Err… Datuk saya minta diri dulu,” ujar Iman Nur ‘Ain. Dengan langkah panjang dia keluar dari bilik pejabat abahnya itu. Fuh! Lega…
Datuk Indra Ihsan dan Syed Iskandar menganggukkan kepala mereka. Datuk Indra Ihsan mempersilakan lelaki masuk.
iman Nur ‘Ain yang sedang berdiri di hadapan lif berfikir seketika. Ceh! Sempat lagi tu. Apa bendanya dia fikir agaknya. Lif dah terbuka. Tapi gadis itu masih tercegat kat depan lif tu. Takde tanda-tanda nak masuk ke dalam perut lif tu.
Aduiyai… Apa nak jadi dengan si Ain ni. Boleh pulak duk tercongok kat depan lif tu. Bila nak sedar da… Alih-alih kena tegur di Kak Ita baru sedar. Tertidur ke apa? Hehehe…
Kak Rosita berasa pelik melihat gadis itu. Boleh pulak termenung kat depan lif. Si Ain ni pulak kalut punya nak cover malu menonong je masuk ke dalam lif. Malu beb… Alah Kak Ita je kot. Lain la kalau yang tegur tu si Iskandar tu. Mau setahun malu agaknya. Opps… terlebih pulak...
               

Sabtu, 16 Julai 2011

MAI BORONG JE..: PELANGI BATIK HANDPRINT SIZE XL - BORONG MINIMA 10...

MAI BORONG JE..: PELANGI BATIK HANDPRINT SIZE XL - BORONG MINIMA 10...: "Note : TIADA PILIHAN WANRNA, WARNA MENGIKUT STOK SUPPLIER YER.. SEBAB TERLALU BANYAK PERMINTAAN JADI CONSIDER SAMA ADIL Harap Maaf ye.. Be..."

Menjawab kekeliruan Umno terhadap perjuangan PAS | Blog Tok Guru

Menjawab kekeliruan Umno terhadap perjuangan PAS | Blog Tok Guru

@w@k L@gi!? - b@b 9

BAB 9                                                 
                HARI itu merupakan hari pertama Prof. Adam Hakim menjejakkan kaki ke UiTM Seri Iskandar di Bota, Perak. Bukan sebagai pelajar tetapi sebagai tenaga pengajar di institusi tersebut.
                Dalam perjalanan beliau ke bilik pengarah untuk melapor diri, pada ketika itulah dia terpandangseorang gadis yang sedang asyik mentelaah di bawah teduhan pokok sambil mulut gadis itu terkumat kamit membaca sesuatu. Entah mengapa, ringan saja kakinya melangkah menuju ke arah gadis tersebut. Namun, belum pun sempat dia mendekati gadis itu, tiba-tiba gadis itu di datangi dua orang lelaki dan seorang perempuan. Nampak macam sebaya. Terbantut niatnya untuk mendekati gadis tersebut.
                ‘Kawan-kawan dia agaknya,’ bisik hati kecilnya.
                Rancak sekali mereka berbual. Sesekali kelihatan si gadis tersenyum dan ketawa riang. Macam kanak-kanak rebinalah pulak. Ah… senyumannya yang manis cukup memikat untuk sesiapa saja yang melihatnya. Dihiadi pula dengan lekuk di dagunya. Menawan sekali. Mata jantannya tidak lepas dari memandang kearah gadis tersebut.
                ‘Dah jatuh cintakah aku?’ bisik hatinya.
                Diamati wajah comel itu dari jauh. Tidak jemu matanya memandang. Dia sedar yang perbuatannya itu tidak manis jika dipandang orang.
‘Alah sekali sekala apa salahnya,’ bisik hatinya lagi.
Hai… ‘makhluk bertanduk’ ni memang suka rialah sekarang agaknya. Terlalai seorang lagi anak adam. Astaghfiruallahhalazim. Woi! Cukup-cukuplah tu tenung anak dara orang.
Di seberang sana, Iman Nur Anis berasa seperti sedang diperhatikan. Lantas matanya terus memerhatikan kawasan sekelilingnnya. Pantas matanya menangkap kelibat seorang pemuda yang sedang asyik memandangnya di laluan pejalan kaki tidak jauh dari tempatnya mentelaah.
Prof. Adam Hakim yang seakan tersedar dirinya telah tertangkap dek curi-curi pandang anak gadis orang segera, memalingkan pandangannya ke arah lain. Lantas berlalu dari situ. Malunya bukan kepalang. Tulah asyik sangat duk tenung anak gadis orang. Kan dah kantoi.
“Isyk… macam mana boleh tertangkap pulak ni? Hah! Padan dengan muka aku. Tulah pandang sangat lama-lama. Sekejap dahlah. Adui… malunya aku,” bebel pemuda itu.
Tanpa disedarinya di hadapannya terletak sebuah tong sampah yang sederhana besarnya.
Agak-agak korang dia langgar tak?
Tiba-tiba…
Bedebuk!!
“Adoi!”
Terjatuh Prof. Adam Hakim. Kenapalah duk langgar tong sampah tu? Cari penyakit sungguh mamat ni. Kan tak pasal-pasal dapat sakit.
“Huh! Nasib baik takde orang kat sini,” ujarnya sambil matanya memandang sekeliling.
Dengan muka selamba, lelaki itu bangun membaiki cermin mata yang tersenget dan membetulkan tali leher serta menepuk-nepuk permukaan seluarnya.
Tanpa disedari ada sepasang mata yang menyaksikan kejadian itu.
Tersenyum gadis itu melihat dari jauh.
Iman Nur Anis geli hati melihat gelagat pemuda yang tak dikenali itu. Tergeleng-geleng kepalanya menahan lucu di hati. Ditahan ketawa dari meletus kerana teman-temannya yang lain tidak melihat apa yang dilihatnya.
Selepas terasa agak jauh dari tempat itu, Prof. Adam Hakim sempat lagi berpaling ke arah gadis yang berada di seberang sana. Terkedu dia seketika apabila gadis itu turut memandang ke arahnya sambil tersenyum. Boleh pulak nampak orang tu tersenyum. Dahsyat sunggung zooming prof ni kan. Kanta jenis apa agaknya dia pakai sampai boleh nampak gadis itu tersenyum. Padahal rasanya agak jauh jugak jarak mereka tu. Huhuhu…
Pantas Prof. Adam Hakim berpaling ke arah lain. Malunya.
“Ya ALLAH!. Malunya aku. Dia nampak ke tadi? Memang dia nampaklah tu agaknya. Siap senyum lagi. Hai… apalah nasib,” keluh lelaki itu.
Dengan pantas, dia terus melangkah menuju ke arah bilik pengarah. Tak paling belakang dah. Serik kot. Hehehe…

APABILA terkenangkan peristiwa yang hampir lima bulan lalu, Prof. Adam Hakim akan tersenyum seorang diri.
Apa tidaknya, setiap kali masuk ke kelas budak architecture tu, dia sering kali diusik oleh pelajarnya itu. Tak lain tak bukan, siapa lagi kalau tak Iman Nur Anis.
‘Budak tu masih ingat lagi kejadian itu rupanya,’ bisik hatinya.
Prof. Adam Hakim tersenyum seorang diri di taman mini di halaman rumahnya. Kadang-kadang tu nampak macam orang tak betul je. Yelah asyik tersenyum sorang-sorang. Nak kata angau pun ye kot. Hehehe…
Tanpa disedarinya kelakuannya itu diperhatikan oleh ibunya.
“Eh! Budak Am ni, dah buang tabiat ke apa? Hah! Tengok tu, siap tersengeh lagi tu. Nampak macam orang angau pulak aku nengoknya,” ujar Pn. Amira sambil mengelengkan kepalanya. Lantas dia terus menuju ke arah anaknya itu.
Prof. Adam Hakim yang masih tidak menyedari kehadiran ibunya itu masih melayan angaunya itu. Kui…kui…kui…
“Amboi! Anak bujang sorang ni senyum aje memanjang dari tadi,” sampuk Pn. Amira yang sedang menghampiri anak bujangnya itu.
“Err… mama. Terperanjat Am,” ujar Prof. Adam Hakim terkejut dengan sapaan ibunya itu.
Macam mana tak terkejut, habis tu dari tadi duk melayan perasaan aje.
“Hah! Dah sembahyang ke belum ni?” soal Pn. Amira.
“Dah. Am baru lepas solat tadi,” ujar Prof. Adam Hakim.
“Lewat Am sembahyang? Tulah sapa suruh tidur lepas maghrib. Mamakan dah pesan. Aii… Am… Am…” keluh Pn. Amira.
“Err… Am terlelap tadi masa nak tunggu azan Isyak. Mama pun tak kejutkan. Nasib baiklah tak sampai ke subuh Am tertidur. Ni dapat bangun pun sebab terkejut dari tidur dapat mimpi pelik-pelik…” ujar Prof. Adam Hakim.
“Emm… lain kali beringatlah,” ujar Pn. Amira memberi peringatan kepada anaknya itu.
“Insyaallah. Eh! Mama tak tidur lagi? Hari dah jauh malam ni,” ujar Prof. Adam Hakim kepada ibunya.
“Hah! Tahu pun dah jauh malam. Habis tu anak mama yang sorang ni tak reti-reti nak masuk tidur?” balas Pn. Amira pula.
‘Aiseh… terkena aku,’ bisik hati Prof. Adam Hakim. Dia hanya tersenyum mendengar kata-kata mamanya itu.
“Emm… dari tadi mama perhatikan Am duk tersenyum sorang diri. Duk pandang bulan tu, kenapa? Terkenangkan siapa agaknya?” tanya Pn. Amira ingin tahu.
‘Adalah tu nak korek rahsia ni,’ bisik hati anaknya itu.
“Err…”
“Siapa orangnya? Kenalkanlah pada mama. Mama nak berkenalan jugak, siapa yang menyebabkan anak mama jadi angau macam ni,” ujar Pn. Amira. Dia dapat mengagak apa yang tersirat di fikiran dan hati anak bujangnya itu. Cewah! Macam ahli nujum la pulak.
“Err… apa mama cakap ni? Siapa apa pulak ni? Isyk… mama ni. Ada-ada ajelah,” ujar Prof. Adam Hakim cuba berdalih.
“Alah Am ni, ingat mama tak perasan ke? Sejak akhir-akhir ni Am selalu sangat termenung. Naik risau pulak mama negoknya. Am beritahu mama siapa budak tu? Nanti senanglah kerja mama nak uruskannya,” ujar Pn. Amira tekad.
“Eh! Budak mana pulak ni mama? Senangkan kerja mama? Kerja apa mama? Mama ni ada-ada ajelah,” ujar Prof. Adam Hakim masih lagi mahu berselindung.
“Hah! Tengok tu, nak berdalih lagi. Mama tahu Am suka kepada seseorang kan? Betulkan? Jangan tipu mama. Mama dapat lihat dari perubahan anak mama ni. Betulkan apa yang mama cakapkan ni?” soal Pn. Amira cuba serkap jarang.
Prof. Adam Hakim hanya memandang ibunya itu. Mengangguk tidak, mengeleng pun tidak. Apa da. Buat tak tahu je dengan pertanyaan seorang ibu. Karang kecik hati batu tahu. Huhuhu… Dia bukan apa, Cuma tak tahu apa yang perlu di katakan kepada ibunya itu.
Pn. Amira masih menunggu jawapan dari mulut anaknya itu. Padahal dia mahu mengertak anaknya itu. Nak suruh jugak budak tu mengaku. Nakal jugak orang tua…opps… orang emas ni. Hehehe…
“Err… mama… Am… Am…”
“Emm… Am lah satu-satunya anak lelaki mama yang tinggal. Aiman dah takde. Dia dah tinggalkan kita. Sebelum mama pun ikut jejak abah dengan adik kamu tu, mama nak tengok kamu hisup berkeluarga, ada orang jaga. Adik kamu si Ainul tu tak telefon-telefon. Dah berapa lama kat sana. Dia dah tak ingat kat mama agaknya,” ujar Pn. Amira dengan nada sebak.
Prof. Adam Hakim termanggu.
‘Aiseh… mama masuk kisah sedihlah pulak. Ni yang aku tak sanggup ni,’ bisik hati kecilnya.
“Mama, ALLAH s.w.t lebih sayangkan Aiman dengan abah. Sebab tu DIA amik diaorang. Mama janganlah sedih-sedih macam ni. Kita doakan supaya roh Aiman dengan abah di tempatkan dalam orang yang beriman. Amin…” ujar Prof. Adam Hakim cuba mententeramkan ibunya itu.
Pn. Amira hanya mampu mengangguk.
“Emm… pasal Ainul pulak, mama janganlah risau sangat kat dia. Am yakin dia pandai jaga diri dan adab. Nanti Am telefon dia. Mungkin dia sibuk dengan assignment agaknya. Sebab tu tak sempat nak telefon mama kot,” ujar Prof. Adam Hakim lagi.
Pn. Amira yang sedari tadi melayan sedihnya tiba-tiba kembali ceria. Kenapa pulak ek? Entah-entah… Oi! Jangan ucapkan perkataan tu. Adalah tu dia teringat sesuatu. Sebab tu nampak ceria semacam je. Hehehe… Hai…backup nampak…
Prof. Adam Hakim pulak berasa pelik dengan perangai ibunya itu. Tetiba je ceria. Ni mesti ada something ni…
“Am beritahulah siapa budak tu?” soal Pn. Amira ingin tahu.
Hah! Kan betul.
‘Lah… tak habis lagi ke topic tadi. Ingatkan boleh terlepas tadi. Hai… nampak gayanya terpaksa jugak aku cerita,’ keluh hatinya sambil menggaru kepalanya yang tidak gatal.
“Emm… macam nilah mama, Am beritahu klu aje ya,” ujar Prof. Adam Hakim masih lagi cuba menyembunyikan perkara sebenar. Sebolehnya dia tidak mahu ibunya tahu sekarang tentang seseorang yang sentiasa ada dalam ingatannya. Ceh! Itu pun nak berahsia.
“Lah… kenapa tak nak beritahu detail terus. Dengan mama pun nak berahsia. Am tak percayakan mama ke?” ujar Pn. Amira masih tidak mahu mengalah. Dia ingin tahu siapa yang membuatkan anaknya jadi begitu. Alah… macamlah kena penyakit teruk pun. Angau je lebih. Hah! Mengatalah kat orang. Kena kat batang hidung sendiri, sendiri tanggung. Huw…huw…huw… gelak jahat…
‘Mama ni buat aku serba salah pulak. Tapi, salah ke aku beritahu kat mama? Tak salahkan. Adui… nasib… nasib…’ keluh Prof. Adam Hakim. Aiseh… mengeluh aje mamat ni.
“Mama, sebenarnya… Am malu nak cerita kat mama,” ujar Prof. Adam Hakim sambil memandang ke arah lain. Nak cari kekuatan agaknya.
“Apa yang nak dimalukan? Am ada buat salah ke? Am suka kat bini orang ke?” soal Pn. Amira bertubi-tubi. Perasaan ingin tahu membuak-buak. Nasib baik tak melimpah ruah. Hehehe…
“Eh! Tak adalah sampai macam tu sekali mama. Tapi,”
“Tapi… tapi apa?” soal Pn. Amira lagi. Adohh… apa da cakap sekerat-sekerat letih da…
Prof. Adam Hakim sesak dengan desakan ibunya itu. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum memulakan bicara. Tenangkan hati…
“Mama, budak yang Am duk teringat sangat tu sebenarnya pelajar Am sendiri. Am malu dengan diri sendiri. Ada pulak tersuka dengan pelajar sendiri. Am tak tahu macam mana boleh terbit perasaan ni,” ujar Prof. Adam Hakim sambil menundukkan kepalanya. Dia kalah dengan renungan ibunya itu. Entah apa yang difikirkan oleh ibunya. Termenung dia seketika. Menerawang jauh. Ke mana lagi kalau tak teringatkan pelajarnya itu. Iman Nur Anis, gadis yang mencuit hatinya di awal pertemuan yang tidak disengajakan.
“Adam Hakim…” panggil ibunya.
Prof. Adam Hakim masih berdiam diri. Tidak menyahut panggilan ibunya itu. Pekak ke apa? Hehehe… saje je.
“Adam Hakim! Dengar tak mama panggil ni?” panggil Pn. Amira agak kuat.
Tersentak lelaki itu. Lantas menoleh ke arah ibunya itu.
“Ye… Ada apa mama?” balas Prof. Adam Hakim yang masih lagi memandang ke arah ibunya itu. Tidak pernah-pernah ibunya memanggil dengan nada sebegitu.
‘Mama marah ke?’ bisik hatinya. Dikerling ibunya itu.
‘Hailah… kenapa mama tengok aku macam tu? Malu la pulak,’ bisik hatinya lagi.
“Am ni kenapa? Mama cuma nak tahu aje. Tak payahlah nak malu. Lumrah la kalau lelaki suka perempuan. Lainlah kalau Am suka kaum sejenos. Tu mama tak boleh nak terima. Ada faham?” ujar Pn. Amira sambil tersenyum.
Kali ini baru Prof. Adam Hakim tersedar.
‘Kenapa mama asyik senyum je dari tadi?’ bisik hatinya. Haiyoo… asyik cakap dalam hati je…
Prof. Adam Hakim rasa tak sedap hati je bila melihat senyuman ibunya itu. Ni mesti ada apa-apa nak tanya lagi tu.
“Am, mama nak tanya ni satu soalan lagi. Boleh?” ujar Pn. Amira. Dia tidak berpuas hati selagi tidak tahu maklumat sebenar. Cewah! Macam penyiasat la pulak. Kui…kui…kui…
Hah! Kan betul.
“Emm… mama nak tanya apa pulak ni? Buat suspen je,” ujar Prof. Adam Hakim berdebar.
‘Janganlah mama tanya soalan yang bukan-bukan,’ bisik hatinya.
“Mama nak tahu, siapa nama budak perempuan tu? Dia tinggal kat mana? Umur dia berapa? Bla… bla…” soal Pn. Amira ingin tahu. Huh! Soalan… macam nak cari menantu je…
Terkejut Prof. Adam Hakim dengan soalan ibunya itu. Kata nak tanya satu soalan je. Ni dah terlebih soalan pulak.
“Err… mama kata satu soalan je. Ni nak lebih dari satu,” ujar Prof. Adam Hakim terkebil-kebil memandang wajah ibunya itu.
                Pn. Amira tersenyum mendengar rungutan anaknya itu.
                “Alah sama je tu. Soalan untuk satu bab tu. Bab lain tak tanya lagi tu,” ujar Pn. Amira tersenyum memandang anaknya itu.
                Membulat mata Prof. Adam Hakim pabila mendengar kata-kata ibunya itu.
                ‘Adui mama ni boleh pulak buat lawak,’ kata hatinya.
                “Emm… beritahulah kat mama, siapa nama budak tu?” soal Pn. Amira sekali apabila soalannya itu tidak dijawab lagi oleh anaknya itu.
                “Emm… namanya…” ujar lelaki itu lambat-lambat.
                “Namanya siapa?” tanya Pn. Amira pantas.
                “Alah… kenapa nak tahu nama pulak mama? Tak penting pun. Kalau mama tahu pun, mamam nak buat apa? Mama nak pergi cari dia? Ataupun mama nak pergi pinang dia?” ujar Prof. Adam Hakim dengan lemah. Malas rasanya nak bincang hal ini. Tetapi dia tidak menyedari dirinya telah terperangkap dengan kata-katanya sendiri.
                “Hah! Good idea. Apa kata mama pergi pinang budak tu aje? Nak?” ujar Pn. Amira teruja dengan kata-kata anaknya itu. Dia cuma nak menyakat anaknya itu. Tapi kalau betul pun apa salahnya kan?
                “Hah!! Apa?” spontan anaknya itu menjerit dengan pantas juga dia menutup mulutnya. Terkejut.
                Pn. Amira tersenyum melihat reaksi anak bujangnya itu. Terkejut sangat ke?
                ‘Biar betul mama ni? Tak boleh jadi ni. Kalau mama betul-betul buat nanti macam mana? Tak kena naya aku nanti,’ bisik hatinya. Dia perlu mancari jalan supaya hal ini tidak menjadi rumit di kemudian hari. Ye ke? Eleh! Takkan tak suka kot. Mama kan dah bagi lampu hijau tu. On jelah takkan tu pun tak nak… Hehehe…
                “Macam mana Am? Bijak tak idea mama? Opps! Bukan idea mama seratus peratus. Tu idea Am kan. Macam mana? Nak? Mama bukan apa. Daripada tengok anak mama yang asyik termenung teringatkan budak tu, lebih baik bagi budak tu terus tinggal kat sini je. Caranya, mama pinangkan terus dia untuk Am. Lepas t uterus je nikah. Kan senang. Ok tak?” ujar Pn. Amira bersungguh-sungguh memberi cadangan. Dah tak sabar agaknya nak bermenantu Pn. Amira ni.
                “Apa ni mama? Kenapa hal ni nak dibangkitkan pulak? Tak bestlah mama,” ujar Prof. Adam Hakim lemah nadanya. Tak bersemangat je. Ye ke? Entah-entah dalam hati suka kot. Hahaha…
                “Apa pulak tak bestnya. Baguskan cadangan mama ni. Am macam tak tahu. Mamakan dah lama mengidam nak anak menantu, ada cucu untuk diajak bermain. Ada jugak yang temankan mama berbual. Taklah sunyi sangat mama nanti. Ada orang jaga kamu. Cuba Am tengok sepupu Am tu. Siapa nama budak tu? Alah… mama dah lupalah. Ni… anak Mak Ngah Rina kamu yang nombor dua tu. Fa… Fahul ke Fatul ke apa namanya… Apa namanya Am?” ujar Pn. Amira panjang lebar.
                “Fathul Hadi namanya mama,” ujar Prof. Adam Hakim kepada ibunya itu.
                “Hah! Betul tu Fathul Hadi. Haa… yang tulah. Dah kahwin pun dia. Muda lagi mama rasa, sama umur dengan Aiman. Dah nak dapat anak agaknya. Dengar-dengar cerita dari mak ngah kamu tu diaorang pergi buat ultrasound katanya  kembar. Hai… bertuahnya mak ngah kamu tu dapat cucu dua sekali gus. Mama ni bila lagi agaknya. Hai…” keluh Pn. Amira. Sebak pulak rasanya. Huhuhu…
Sekali lagi terkeluar nama adiknya itu. Prof. Adam Hakim dapat melihat redupan mata ibunya itu apabila nama adiknya itu disebut.
“Mama, mama okey tak ni?” soal Prof. Adam Hakim pabila melihat raut wajah ibunya itu.
“Mama okey je. Mama tak apa-apa Am. Sebak je sikit bila tersebut nama arwah adik kamu tu. Tak apalah kalau Am tak mahu beritahu pasal budak tu. Mama tak paksa. Itu hak Am nak beritahu atau tidak kan. Mama hormati soal peribadi kamu,” ujar Pn. Amira dengan wajah sayu. Lalu dia ingin berlalu masuk ke dalam rumah.
Prof. Adam Hakim tidak sampai hati untuk melukakan hati ibunya itu. Dilihatnya ibunya berjalan menuju ke pintu rumah. Tiba-tiba…
“Iman Nur Anis!” laung Prof. Adam Hakim kepada ibunya itu.
Pn. Amira berpaling apabila terdengar laungan anaknya itu.
“Apa?” soal Pn. Amira untuk memastikan apa yang didengarinya.
“Nama budak… perempuan… tu… Iman Nur Anis mama,” ujar Prof. Adam Hakim lambat-lambat kepada ibunya itu. Lantas dia menuju ke arah ibunya yang sedang tercegat di hadapan pintu masuk itu.
Pn. Amira tersenyum. Prof. Adam Hakim membalas senyuman ibunya itu. Tengok! Kuasa seorang ibu. Hehehe…
“Manis nama budak tu mungkin semanis orangnya?” ujar Pn. Amira sambil mengerling wajah anak bujangnya itu.
“Emm…”
Pn. Amira terdiam seketika. Nampak macam berfikir sesuatu. Berkerut-kerut dahinya yang telah tersedia kedut itu berfikir akan nama yang diberitahu anaknya itu. Dia macam pernah mendengar nama itu disebut. Tapi, kat mana ye?
“Kenapa mama?” soal Prof. Adam Hakim apabila melihat reaksi  dari ibunya itu.
‘Tadi suruh aku cakap sangat. Ni terdiam pulak. Hai…mama…mama…’ bisik hatinya.
“Eh! Tak ada apa-apa Am. Emm… bila nak kenalkan pada mama?” ujar Pn. Amira sambil tersenyum kepada anaknya itu.
Prof. Adam Hakim hanya mampu menggelengkan kepalanya dengan permintaan daripada ibunya itu. Dia sudah sedia maklum dengan perangai ibunya itu.
“Mama… suatu hari nanti akan Am kenalkan dia pada mama ye. Am janji,” ujar Prof. Adam Hakim kepada ibunya sambil mengangkat tangannya seperti nak berikrar.
“Janji?” ujar Pn. Amira pula.
Prof. Adam Hakim hanya mengangguk tanda mengiyakan kata ibunya itu.
“Eh! Am, jom masuk. Rasa sejuk pulak mama berdiri lama-lama kat luar ni. Dah pukul berapa agaknya?” ujar Pn. Amira mengajak anaknya itu masuk ke dalam rumah.
“Yelah mama. Am pun dah rasa sejuk semacam je ni. Karang tak pasal-pasal kena ‘tegur’ nanti. Jom mama,” ujar Prof. Adam Hakim masih lagi sempat bergurau. Ada ke patut buat lawak tengahmalam buta ni. Kang kena ‘tegur’ betul-betul baru tahu.
Membulat mata ibunya itu mendengar gurauan anaknya itu. Lantas di piat teliga anaknya itu. Mengaduh jugaklah pensyarah kita yang sorang ni. Hehehe… besar-besar pun masih kena piat telinga. Buat malu je. Kui…kui…kui…
Kedua-dua beranak itu berjalan beriringan masuk ke dalam rumah mereka. Malam tersebut berlalu dengan perbincangan yang menjadi tanda tanya kepada Pn. Amira. Pernah suatu ketika dulu, dia ada terdengar nama itu diucap oleh seseorang. Tapi, siapa? Kat mana nama itu pernah didengarinya? Entah? Zero. Dia sendiri tidak ingat. Apa-apa pun dia akan tahu suatu hari nanti. Betul tak? Mungkin?